Rabu, 07 Oktober 2009

Mau Jadi orang Berhikmat?

Mau Jadi Orang Berhikmat?
Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Amsal 2:6

Kemanakah orientasi pendidikan saudara? Apakah anda lebih mementingkan pengalaman atau pengetahuan? Apakah anda berpikir bahwa sekolah kejuruan lebih mempersiapkan anda dalam pengalaman bekerja sementara sekolah umum lebih mendasarkan pada pengetahuan? Bagaimana anda meniti karir anda sekarang? Apakah anda dihargai perusahaan atau tempat kerja saudara karena pengalaman atau karena jenjang pendidikan?

Sebelum kita mulai menyatakan bahwa pendidikan atau pengalaman adalah kunci sukses saya, maka cobalah anda berpikir bagaimana anda terinspirasi dalam melakukan sesuatu hal? Bagaimana anda menemukan sesuatu dan mengatakan, “aha” sebagai tanda bahwa anda mengerti? Satu hal yang sangat mendasar dalam menyingkapi pengetahuan dan kepandaian adalah mendapatkan apa yang kita ketahui atau alami itu memiliki kegunaan bagi kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Penulis Amsal mengingatkan bahwa semua yang kita ketahui dan alami membutuhkan hikmat dari Tuhan. Ia memberi hikmat agar kita mendapati bahwa apa yang kita ketahui dan alami semuanya berguna bagi kehidupan kita pribadi maupun orang-orang disekitar kita. Maukah anda menjadi orang berhikmat? Mintalah kepada Tuhan.

Doa: Tuhan berikanlah hikmatMu agar aku dapat menggunakan apa yang ku ketahui dan apa yang ku alami bagi kehidupanku pribadi maupun orang-orang yang berada di sekelilingku. Amin.

Senin, 31 Agustus 2009

Takut akan Tuhan dan Pengenalan akan Tuhan


“Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian,jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” Amsal 2:1-5

 
Kita mungkin bertanya, kenapa masih banyak orang  yang tidak percaya kepada Tuhan? Kenapa masih ada orang yang atheis? Kenapa masih ada orang yang mengaku percaya kepada Tuhan tapi tidak terwujud dalam tingkah lakunya? Kenapa masih ada orang yang mengaku percaya tapi tidak mengenalnya?
Penulis Amsal memberi gambaran kepada kita untuk masing-masing pertanyaan diatas, karena pertanyaan tersebut bermuara dalam satu pertanyaan, yaitu “bagaimana seseorang hidup dalam takut akan Tuhan dan mengenalNya?”
Pertama, kita dapat hidup dalam takut akan Tuhan jika menerima perkataanNya dan menyimpan perintahNya dalam hati (a.1). Sikap seseorang menghadapi ketakutan terhadap sesuatu seringkali menyangkali rasa takut kita kepada Tuhan. Ketika pikiran dan perasaan kita dikuasai oleh ketakutan seringkali kita menolak FirmanNya. Ketakutan kita lebih terhadap perbuatan dan akibatnya daripada pada terhadap keagungan, kesucian dan keadilanNya.
Kedua, jika kita berseru kepadaNya (ay. 3). Penulis mengingatkan kita tentang waktu doa kita setiap hari. Waktu doa kita membantu kita untuk merasakan kehadiranNya dalam takut dan gentar, dan mengenalNya lebih dalam lagi.
Ketiga, jika kita mencari dan mengejarNya seperti sesuatu yang kita inginkan (ay. 4). Kita mungkin mudah mendapati pernyataan demikian, “Saya sudah mencari Tuhan tapi Ia tidak berkenan ditemui” atau “Saya sudah mencari Tuhan tapi saya tidak menemukannya.” Sebelumnya saya ingin menyatakan bahwa Tuhan telah mencari anda sebelum anda mencari Dia. Ketika kita tidak menemuinya kita menganggap bahwa Ia jauh dan sulit ditemui. Kita harus ingat bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, Allah selalu berperan sebagai inisiator dalam segala hal. Namun masalahnya kita tidak sungguh-sungguh mencari Dia.
 Mungkin ada yang berpikir bahwa mencari Tuhan itu seperti mencari website tertentu yang hanya menggunakan search engine untuk mendapatkannya. Penulis Amsal menyatakan kepada kita bahwa seyogyanya kita mencari Tuhan seperti sesuatu yang kita inginkan. Bayangkan saja jika anda sangat lapar (anda berada di padang gurun yang tandus), anda pasti akan mencari makanan dengan segera, mungkin anda akan makan apa saja dan apa saja makanannya akan terasa enak, dimanapun anda makan tidak menjadi masalah, lalu andapun bersedia membayar dengan harga berapapun. Nah, apakah cara kita mencari Tuhan seperti itu? Apakah kita mencari Tuhan segera sesudah kita bangun pagi, apakah kita selalu mau melakukan FirmanNya dan taat kepadaNya (tidak pilih-pilih Firman, pendeta, lagu, gereja), apakah kita bersedia diutus Tuhan kemana saja, apakah kita mau bayar harga dalam menguikut Tuhan. Mungkin kita bisa menjawab salah satu pertanyaan diatas namun kitapun mendapati bahwa seringkali cara kita mendekati dan mencarinya telah salah. Kita tidak mencari Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, kita tidak mencarinya karena dikondisikan oleh tempat yang tidak nyaman buat kita, kita tidak mau mencari Tuhan karena kita tidak mau melakukan perintahNya, ataupun kita tidak mau mencari Tuhan karena kita tidak mau menyerahkan segala sesuatu dalam hidup kita kepada-Nya.
Perbaharui komitment anda untuk hidup takut akan Tuhan dan lebih dalam mengenalNya dengan menerima perkataanNya dan menyimpan perintahNya dalam hati, berseru kepadaNya dan mencari dan mengejarNya seperti sesuatu yang anda inginkan.

Kamis, 20 Agustus 2009

Principled taken from Proverbs 1:10-14

Sin/Sinners are not going to force you but they are going to entice (tempt) you, using other people to do the same with them and plan to make you fall into sin.

Jumat, 17 Juli 2009

Kehidupan Seorang Berhikmat Dikenal dari Buahnya yang Mendatangkan Keamanan dan Perlindungan

“…maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka." Amsal 1:31-33 Kita tidak dapat menilai seseorang dari penampilannya atau tampak luarnya saja. Kita dapat mengetahui seseorang terutama dari buah perbuatannya. Setidaknya demikian kalimat yang sering diperdengarkan oleh pengkhotbah, pendeta, jemaat ataupun orang-orang di lingkungan gerewaji pada umumnya. Penulis Amsal mendorong kita untuk berpikir lebih jauh, yaitu bukan saja perkara perbuatan yang dihasilkan seperti buah dari pohon, melainkan juga apa yang akan dimakan dari pohon yang menghasilkan buah yang buruk. Perbuatan-perbuatan yang buruk maupun jahat akan dituai oleh barangsiapa yang melakukannya dan merencanakannya (ay. 31b). Kemudian Penulis Amsal menjelaskan tentang akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang yang tak bepengalaman, yaitu berupa kematian. Hal ini terjadi karena keengganannya untuk menerima nasihat (ay. 30a) Sementara itu kelalaian yang berakibat kebinasaan terjadi karena orang bebal menolak segala teguran (ay. 30b). Lalu bagaimana kita mengupayakan agar diri kita tidak menjadi orang-orang tidak berpengalaman yang dibunuh oleh keengganan dan menjadi orang-orang bebal yang dibinasakan oleh kelalaian kita sendiri. Pengecualian disebutkan oleh penulis Amsal, yaitu jika kita berpaling dan mendengarkan hikmat daripadaNya. Hikmat akan memberikan rasa aman dan terlindungi dari kedahsyatan malapetaka (ay. 33).