Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Amsal 2:6
Kemanakah orientasi pendidikan saudara? Apakah anda lebih mementingkan pengalaman atau pengetahuan? Apakah anda berpikir bahwa sekolah kejuruan lebih mempersiapkan anda dalam pengalaman bekerja sementara sekolah umum lebih mendasarkan pada pengetahuan? Bagaimana anda meniti karir anda sekarang? Apakah anda dihargai perusahaan atau tempat kerja saudara karena pengalaman atau karena jenjang pendidikan?
Sebelum kita mulai menyatakan bahwa pendidikan atau pengalaman adalah kunci sukses saya, maka cobalah anda berpikir bagaimana anda terinspirasi dalam melakukan sesuatu hal? Bagaimana anda menemukan sesuatu dan mengatakan, “aha” sebagai tanda bahwa anda mengerti? Satu hal yang sangat mendasar dalam menyingkapi pengetahuan dan kepandaian adalah mendapatkan apa yang kita ketahui atau alami itu memiliki kegunaan bagi kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Penulis Amsal mengingatkan bahwa semua yang kita ketahui dan alami membutuhkan hikmat dari Tuhan. Ia memberi hikmat agar kita mendapati bahwa apa yang kita ketahui dan alami semuanya berguna bagi kehidupan kita pribadi maupun orang-orang disekitar kita. Maukah anda menjadi orang berhikmat? Mintalah kepada Tuhan.
Doa: Tuhan berikanlah hikmatMu agar aku dapat menggunakan apa yang ku ketahui dan apa yang ku alami bagi kehidupanku pribadi maupun orang-orang yang berada di sekelilingku. Amin.
“Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian,jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” Amsal 2:1-5
Kita mungkin bertanya, kenapa masih banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan? Kenapa masih
ada orang yang atheis? Kenapa masih ada orang yang mengaku percaya kepada Tuhan
tapi tidak terwujud dalam tingkah lakunya? Kenapa masih ada orang yang mengaku
percaya tapi tidak mengenalnya?
Penulis Amsal memberi gambaran kepada kita untuk
masing-masing pertanyaan diatas, karena pertanyaan tersebut bermuara dalam satu
pertanyaan, yaitu “bagaimana seseorang hidup dalam takut akan Tuhan dan
mengenalNya?”
Pertama, kita dapat hidup dalam takut akan Tuhan jika
menerima perkataanNya dan menyimpan perintahNya dalam hati (a.1). Sikap
seseorang menghadapi ketakutan terhadap sesuatu seringkali menyangkali rasa
takut kita kepada Tuhan. Ketika pikiran dan perasaan kita dikuasai oleh
ketakutan seringkali kita menolak FirmanNya. Ketakutan kita lebih terhadap perbuatan
dan akibatnya daripada pada terhadap keagungan, kesucian dan keadilanNya.
Kedua, jika kita berseru kepadaNya (ay. 3). Penulis
mengingatkan kita tentang waktu doa kita setiap hari. Waktu doa kita membantu
kita untuk merasakan kehadiranNya dalam takut dan gentar, dan mengenalNya lebih
dalam lagi.
Ketiga, jika kita mencari dan mengejarNya seperti
sesuatu yang kita inginkan (ay. 4). Kita mungkin mudah mendapati pernyataan
demikian, “Saya sudah mencari Tuhan tapi Ia tidak berkenan ditemui” atau “Saya sudah
mencari Tuhan tapi saya tidak menemukannya.” Sebelumnya saya ingin menyatakan
bahwa Tuhan telah mencari anda sebelum anda mencari Dia. Ketika kita tidak
menemuinya kita menganggap bahwa Ia jauh dan sulit ditemui. Kita harus ingat
bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, Allah selalu berperan
sebagai inisiator dalam segala hal. Namun masalahnya kita tidak sungguh-sungguh
mencari Dia.
Mungkin ada
yang berpikir bahwa mencari Tuhan itu seperti mencari website tertentu yang
hanya menggunakan search engine untuk mendapatkannya. Penulis Amsal menyatakan
kepada kita bahwa seyogyanya kita mencari Tuhan seperti sesuatu yang kita
inginkan. Bayangkan saja jika anda sangat lapar (anda berada di padang gurun
yang tandus), anda pasti akan mencari makanan dengan segera, mungkin anda akan
makan apa saja dan apa saja makanannya akan terasa enak, dimanapun anda makan
tidak menjadi masalah, lalu andapun bersedia membayar dengan harga berapapun.
Nah, apakah cara kita mencari Tuhan seperti itu? Apakah kita mencari Tuhan
segera sesudah kita bangun pagi, apakah kita selalu mau melakukan FirmanNya dan
taat kepadaNya (tidak pilih-pilih Firman, pendeta, lagu, gereja), apakah kita
bersedia diutus Tuhan kemana saja, apakah kita mau bayar harga dalam menguikut
Tuhan. Mungkin kita bisa menjawab salah satu pertanyaan diatas namun kitapun
mendapati bahwa seringkali cara kita mendekati dan mencarinya telah salah. Kita
tidak mencari Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, kita
tidak mencarinya karena dikondisikan oleh tempat yang tidak nyaman buat kita,
kita tidak mau mencari Tuhan karena kita tidak mau melakukan perintahNya,
ataupun kita tidak mau mencari Tuhan karena kita tidak mau menyerahkan segala
sesuatu dalam hidup kita kepada-Nya.
Perbaharui komitment anda untuk hidup takut akan Tuhan
dan lebih dalam mengenalNya dengan menerima perkataanNya dan menyimpan
perintahNya dalam hati, berseru kepadaNya dan mencari dan mengejarNya seperti
sesuatu yang anda inginkan.
Sin/Sinners are not going to force you but they are going to entice (tempt) you, using other people to do the same with them and plan to make you fall into sin.
“…maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka." Amsal 1:31-33
Kita tidak dapat menilai seseorang dari penampilannya atau tampak luarnya saja. Kita dapat mengetahui seseorang terutama dari buah perbuatannya. Setidaknya demikian kalimat yang sering diperdengarkan oleh pengkhotbah, pendeta, jemaat ataupun orang-orang di lingkungan gerewaji pada umumnya. Penulis Amsal mendorong kita untuk berpikir lebih jauh, yaitu bukan saja perkara perbuatan yang dihasilkan seperti buah dari pohon, melainkan juga apa yang akan dimakan dari pohon yang menghasilkan buah yang buruk. Perbuatan-perbuatan yang buruk maupun jahat akan dituai oleh barangsiapa yang melakukannya dan merencanakannya (ay. 31b).
Kemudian Penulis Amsal menjelaskan tentang akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang yang tak bepengalaman, yaitu berupa kematian. Hal ini terjadi karena keengganannya untuk menerima nasihat (ay. 30a) Sementara itu kelalaian yang berakibat kebinasaan terjadi karena orang bebal menolak segala teguran (ay. 30b).
Lalu bagaimana kita mengupayakan agar diri kita tidak menjadi orang-orang tidak berpengalaman yang dibunuh oleh keengganan dan menjadi orang-orang bebal yang dibinasakan oleh kelalaian kita sendiri. Pengecualian disebutkan oleh penulis Amsal, yaitu jika kita berpaling dan mendengarkan hikmat daripadaNya. Hikmat akan memberikan rasa aman dan terlindungi dari kedahsyatan malapetaka (ay. 33).
I want to WELCOME to all friends who view this blog from Indonesia (Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, Cirebon, Salatiga, Semarang, Gresik, Yogya, Madiun, Surabaya, Malang, Denpasar, Tanjungpinang, Pekanbaru , Banjarmasin, Medan, Balikpapan, Makasar); Malaysia (Kota Kinabalu); Singapore; Thailand (Bangkok); United States (New York - Syracuse, N.Y; Colorado - Colorado Springs; South Carolina - Lilington; Oklaho; California - Santa Clara, Sunnyvale, Modesto); Mexico (Guadalajara); Norway; Australia - Perth; Japan - Fujisawa; France - Paris; Austria - Vienna; South Korea; China (Xiamen); Kuwait; Nederland -Boskoop; Brazil - Pelotas, Porto Aleegre. It's my privilege to have you seen my blog. I hope you can leave message or comment one day. I pray that everything that i wrote here will make us aware that God will lead us somehow with His answers, Words, Spirit and love.
Sincerely yours, John O.H. Sihombing
Blessing
May Laugh, Joy from JESUS upon You
View My Ground Rules
1. Blog ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang dikirimkan kepada saya, baik melalui email, HP dan pertemuan antar pribadi. 2. Blog ini mengemukakan pikiran, iman dan perenungan penulis terhadap masalah yang mengemuka dan berhubungan dengan iman Kristen. 3. Jika ada yang mengutip tulisan ini harap memberikan penjelasan tentang tujuan anda dan mohon tinggalkan komentar atau pesan anda 4. Blog ini tidak untuk menjawab pertanyaan secara kompleks, namun secara sederhana dan berusaha memenuhi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada saya 5. Penulis terkadang masih memberikan koreksi terhadap jawaban atau penjelasan yang ada jika dipandang perlu dan menambah wawasan dalam pembelajaran. Biasanya koreksi atau masukan penting lainnya saya tuliskan dalam kolom komentar.